Rabu, 02 Desember 2015

TUGAS 3 BAHASA INDONESIA 1

      TEMA DAN KERANGKA KARANGAN  



Tema Karangan
    
           
A. Definisi Tema
Tema menurut etimologis berasal dari kata Yunani thithenai artinya ‘menempatkan’ atau ‘meletakkan’. Menurut terminologis, tema adalah suatu perumusan topik yang akan dijadikan landasan pembicaraan dan tujuan yang akan dicapai melalui topik tadi.
Keraf (2005:107) mengemukakan bahwa pengertian tema, secara khusus dalam karang-mengarang dapat dilihat dari dua sudut, yaitu :

·       Karangan yang telah selesai
      Tema ditinjau dari sudut karangan yang telah selesai adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Amanat utama ini dapat diketahui bila seseorang telah membaca sebuah karangan, misalnya cerpen. Setelah membaca cerpen  itu, pembaca dapat memahami isi bacaan dari seluruh karangan itu. Sebuah cerpen umpamanya memiliki kandungan tema dasar. Meskipun perwujudan cerpen itu relatif pendek dengan penceritaan yang singkat, cerpen banyak menampilkan persoalan manusia dengan liku-liku kehidupannya, sarat akan imajinasi yang berhubungan dengan realitas sosial dan problem yang ditampilkan dapat menjadi sosok guru, renungan, contoh kehidupan yang dapat diteladani atau mungkin dihindari. Misalnya, tema dasar yang dapat dirumuskan dalam sebuah kalimat singkat: “Karena pengaruh teknologi informasi dan telekomunikasi yang demikian pesat, banyak remaja di kota Bumi terhipnotis bermain game online”. Inti sari dari cerpen yang penceritaannya singkat itu, menguraikan kisah seorang remaja yang ketagihan bermain game dan akhirnya sekolahnya hancur berantakan karena sering bermain game. Sebagaimana dirumuskan dalam kalimat singkat tadi, itulah yang dinamakan tema.

·       Proses penyusunan sebuah karangan
      Tema ialah bertumpu dari kenyataan bahwa penulis harus memilih suatu topik atau pokok pembicaraan. Berawal dari pokok pembicaraan itulah penulis menempatkan suatu tujuan yang ingin disampaikan dengan landasan topik tadi. Dengan demikian, ketika menyusun sebuah tema untuk suatu karangan ada dua unsur penting, yaitu:
1.     Pokok pembicaraan (topik). 
2.    Tujuan yang akan dicapai melalui topik tadi.

Berdasarkan kedua unsur ini, maka tema dibatasi sebagai : “suatu perumusan dari topik yang akan dijadikan landasan pembicaraan dan tujuan yang akan dicapai melalui topik tadi.”

BMemilih Topik
Topik bisa juga disebut pokok bahasan yang dapat mengantarkan seorang penulis untuk menghasilkan sebuah tema dari penelitian yang dilakukan. Topik dapat terdiri dari satu kata saja. Topik ini dapat dikembangkan menjadi sebuah tulisan yang harus diidentifikasi agar terkuak apa maksud dibalik topik yang dipilih. Jadi kita harus memilih salah satu agar kita bisa membatasi topik tersebut (spesifikasi). Topik karangan adalah hal yang menjadi bahan pembicaraan dalam sebuah tulisan. Topik karangan harus bermanfaat, layak dibahas, menarik, dikenal baik, bahan mudah didapati, tidak terlalu luas, dan terlalu sempit. Topik harus terbatas. Pembatasan sebuah topik mencangkup: konsep, variabel, data, lokasi(lembaga) pengumpulan data, dan waktu pengumpulan data.
Sebuah topik yang hendak dikembangkan menjadi sebuah tulisan harus diidentifikasi terlebih dahulu. Caranya kita dapat memperhatikan beberapa unsur-unsur sebagai berikut 
1.     Pelaku topik 
2.    Dasar-dasar topic
3.     Objek topik
4.    Tujuan topik
5.    Manfaat topik

Maksud dari unsur-unsur di atas adalah sebagai panduan kita untuk menspesifikasikan manakah tinjauan utama yang akan kita bidik sebagai sasaran guna mendapatkan tema yang sesuai dari sebuah penelitian yang akan dilakukan.
Sumber untuk mencari inspirasi topik penelitian bulletin, majalah, hasil obrolan dengan masyarakat, praktisi issu di koran kumpulan judul dan abstrak penelitian.
Semua pokok persoalan itu dapat dijadikan topik karangan dengan mempergunakan salah satu bentuk tulisan, yaitu eksposisi, deskripsi, narasi atau argumentasi.
·    Eksposisi yaitu bentuk tulisan yang bertujuan untuk memberi penjelasan atau informasi, maka penjelasan diuraikan dalam bentuk proses. Misalnya, cara melakukan tanam bunga hias di taman yang luas pada pekarangan rumah.
·       Deskripsi yaitu menggambarkan suatu hal yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Misalnya tentang kemacetan di kota Jakarta. Deskripsi berhubungan dengan penggambaran kesan pancaindera terhadap suatu objek.
·   Narasi adalah bentuk tulisan yang berupaya mengisahkan suatu peristiwa secara kronologis. Beberapa pokok yang digunakan adalah biografi, novel, sejarah dan lain-lain.
·         Argumentasi adalah tulisan yang mengajukan pembuktian-pembuktian.

C. Pembatasan Maksud
Dengan membatasi topik pembicaraan, memungkinkan penulis untuk lebih terpusat sehingga ia tetap konsentrasi dengan persoalan yang ditulisnya. Untuk menulis sesuatu yang khusus, perlu diketahui secara umum topik itu melalui pembidangan dan aspek ilmiahnya. Pengetahuan dasar itu dikembangkan lebih lanjut dengan hasil pengamatan atau penelitian. Dengan mengenal prinsip dasarnya, maka penulis akan lebih mudah mengetahui aspek-aspek mana yang diperlukan datanya. Pembatasan topik masih perlu dijelaskan secara rinci melalui ‘apa maksud pengarang’ dalam menguraikan topik tadi.
Pembatasan maksud pengarang adalah sebuah rancangan menyeluruh yang memungkinkan penulis berpikir secara lebih cermat dan fokus dalam batas-batas itu. Sama halnya dengan pembatasan topik, pembatasan maksud juga akan membentuk bahan mana yang diperlukan. Walaupun topik yang dipilih sama tetapi karena maksudnya berbeda, maka tema yang dihasilkan juga berbeda. Akibatnya hasil garapannya bisa berlainan, materi-materi yang dipilih juga berlainan. Apabila topik persoalan, pembatasan maksud telah ditentukan, maka langkah selanjutnya adalah perumusan masalah dan tujuan yang akan dicapai dengan topik tadi. Agar maksud lebih terfokus, maka perumusan itu perlu ditulis dalam bentuk kerangka karangan yang merupakan perincian dari perumusan masalah itu. Perumusan masalah itu adalah tema karangan. Perumusan itu dapat berbentuk satu kalimat, sebuah alinea atau rangkaian alinea-alinea. 

DTesis dan Pengungkapan Maksud
        1. Tesis
Perumusan tema berbentuk kalimat diperlukan dalam penyusunan sebuah kerangka karangan. Perumusan singkat yang mengandung tema dasar dari sebuah kerangka karangan disebut tesis. Dalam tesis ada satu gagasan sentral yang menonjol. Tesis biasanya berbentuk satu kalimat, baik itu kalimat tunggal atau kalimat majemuk bertingkat.
Sebuah tesis tidak dapat dirumuskan dalam bentuk kalimat majemuk setara, sebab kalimat ini mengandung dua gagasan sentral. Tesis bermanfaat sebagai gagasan utama dalam sebuah alinea. Ditinjau secara sintaksis, kalimat pengungkap tesis terdiri dari subjek, predikat  dan kalau ada objek. Bila ditinjau dari aspek-aspek pembentuk tema, maka gagasan sentral itu harus terdiri dari topik yang akan dibahas dan tujuan yang akan dicapai. Dengan demikian secara formal tesis adalah tema yang berbentuk satu kalimat dengan topik dan tujuan yang akan dicapai melalui topik yang tadi yang bertindak sebagai gagasan sentral kalimat. Keraf (2005:117).

 2. Pengungkapan Maksud
Pengungkapan maksud merupakam sebuah tulisan yang hanya mengemukakan penjelasan tentang apa yang ingin disampaikan penulisnya. Karangan model ini hanya bertujuan untuk memberitahu suatu gambaran peristiwa untuk menimbulkan suatu suasana atau kesan. Contoh tema-tema yang sering menggunakan pengungkapan maksud, yaitu kenang-kenangan, autobiografi, deskripsi, narasi, kejadian-kejadian.
                    
E. Syarat-syarat Tema yang Baik
Tema yang baik selain harus terbatas dan perumusan masalahnya jelas, maka untuk menyusun sebuah tema yang baik diperlukan beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
  1   Kejelasan
Seorang penulis perlu menentukan gagasan sentral secara jelas. Sebab kejelasan merupakan aspek penting bagi sebuah tulisan yang baik. Kejelasan dapat dilakukan dengan menjajarkan pokok pembicaraan dan tujuan yang akan disampaikan kepada para pembaca. Dengan gagasan sentral yang jelas, maka tema dapat dirumuskan dalam sebuah kalimat yang mudah dipahami.
2. Kesatuan
Kesatuan dilihat melalui satuan gagasan sentral yang menjadi dasar seluruh karangan yang dibuat. Perincian dari gagasan sentral hanya menunjang satu gagasan sentral saja. Setiap perincian dari gagasan sentrla hanya boleh mengandung satu gagasan saja. Sebuah tulisan yang memperlihatkan kesatuan akan memperlihatkan dengan tegas tesis atau pengungkapan maksud. Kesatuan gagasan sentral merupakan suatu hal penting. Penulis harus berhasil meneapkan gagasan sentral agar seluruh isi tulisannya menyatakan satu ide utuh. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar gagasan sentral tetap utuh, yaitu : 1) penulis harus mempertahankan keharmonisan nada tulisannya, 2) tetap fokus pada topik yang dipilihnya yang ditandai oleh pemakaian kata, 3) perincian gagasan sentralnya harus sejalan dengan gagasan sentral

Kerangka Karangan

A.       Pengertian Kerangka Karangan
Untuk membuat perencanaan semacam itu diperlukan metode yang teratur, sehingga pada waktu menyusun bagian-bagian dari topik yang akan di garap itu dapat dilihat hubungan yang jelas antara satu bagian dengan bagian-bagian yang lain, bagian mana yang sudah baik dan bagian mana yang masih memerlukan penyempurnaan. Metode yang biasa dipakai untuk maksud tersebut disebutkerangka karangan atau outline.
Sebuah kerangka karangan mengandung rencana kerja, memuat ketentuan-ketentuan pokok bagaimana suatu topik harus diperinci dan dikembangkan. Kerangka karangan menjamin suatu penyusunan yang logis dan teratur, serta memungkinkan seorang penulis membedakan gagasan-gagasan utama dari gagasan-gagasan tambahan. Sebuah kerangka karangan tidak boleh diperlakukan sebagai suatu pedoman yang kaku, tetapi selalu dapat mengalami perubahan dan perbaikan untuk mencapai seuatu bentuk yang semakn lebih sempurna. Kerangka karangan dapat berbentuk catatan-catatan sederhana, tetapi dapat juga berbentuk mendetail, dan digarap dengan sangat cermat. Secara singkat dapat dikatakan kerangka karangan adalah suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang.

B.        Manfaat kerangka karangan
Mengapa metode ini sangat dianjurkan kepada para penulis, terutama kepada mereka yang baru mulai menulis ?
Karena metode ini akan membantu setiap penulis untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu dilakukan. Atau secara terperincidapat dikatakan bahwa kerangka karangan dapat membantu penulis dalam hal-hal berikut :
•         Untuk menyusun karangan secara teratur. Kerangka karangan membantu penulis untuk melihata wujud gagasan-gagasan dalam sekilas pandang, sehingga dapat dipastikan apakah susunan dan hubungan timbal-balik antara gagasan-gagasan itu sudah tepat, harmonojis dalam perimbangannya. Dengan kata lain, apakah tesis atau pengungkapan maksud sudah disusun dalam pola teratur atau tidak.
•         Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda. Setiap tulisan dikembangkan menuju ke satu klimaks tertentu. Namun sebelum mencapai klimaks dari seluruh karangan itu terdapat sejumlah bagian yang berbeda-beda kepentingannya terhadap klimaks yang utama tadi. Tiap bagian jua mempunyai klimaks tersendiri dalam bagiannya. Supaya pembaca dapat terpikat secara terus-menerus menuju kepada klimaks utama, maka susunan bagian-bagian haris diatur pula sekian macam sehingga tercipta klimaks yang berbeda-beda yang dapat memikat perhatian pembaca.
•         Menghindari penggarapan sebuah topik sampai dua kali atau lebih. Ada kemungkinan suatu bagian perlu dibicarakan dua kali atau lebih, sesuai dengan kebutuhan dari tiap karangan itu. Namun penggarapan topik sampai dua kali atau lebbih tidak perlu. Kalau hal itu hanya akan membawa efek yang tidak menguntungkan misalnya : bila penulis tidak sadar betul maka pendapatnya mengenai topik yang sama pada bagian terdahulu lain, sedangkan pada bagian kemudian bertentang dengan terdahulu. Hal ini tidak dapat diterima, bahwa dalam satu karangan yang sama terdapat pendapat yang bertentangan satu sama lain. Di pihak lain menggarap suatu topik lebih dari satu kali hanya membuang waktu, tenaga dan materi. Kalau memang tidak dapat dihindari maka penulis harus menetapkan pada bagian topik tadi harus diuraikan, sedangkan bagian yang lain cukup dengan menunjuk kembali kepada bagian yang lain tadi (lihat selanjutnya   catatan kaki).
•         Memudahkan penulis untuk mencari materi pembantu. Dengan mempergunakan perincian-perincian dalam kerangka karangan penulis dengan mudah akan mencari data-data atau fakta-fakta untuk memperjelas atau membuktikan pendaapatnya. Atau data dan fakta yang telah dikumpulkan dan dipergunakan untuk bagian-bagian mana dari karangannya itu.
•         Bila seorang pembaca kelak menghadapi karanga yang telah siap, ia dapat menyusutkanya kembali kepada kerangka karangan yang hakekatnya sama dengan apa yang telah dibuat pengarangnya. Dengan penyusutan ini pembaca akan melihat wujud, gagasan, struktur, serta nilai umum dari karangan itu. Kerangka karangan merupakan miniatur atau tropotipe dari sebuah karangan. Dalam bentuk miniatur ini karangan tersebut dapat diteliti, dianalisa, dan dipertimbangkan secara menyeluruh, bukan secara terlepas-lepas. Dengan demikian : tesis/ pengungkapan maksud = kerangka karangan = karangan = ringkasan.

C.       Penyusunan kerangka karangan
Suatu kerangka karangan yang baik tidak sekali dibuat. Penulis selalu akan berusaha menyempurnakan bentuk yang pertama, sehingga bisa diperoleh bentuk yang lebih baik, demikian seterusnya. Untuk itu dapat dikemukakan langkah yang perlu diikuti, terutama bagi mereka yang baru mulai menulis. Langkah-langkah ini tidak mutlak harus diikuti oleh penulis-penulis yang sudah mahir. Seoarang penulis yang sudah bisa dengan tulisan-tulisan yang kompleks, akan dengan mudah menyusun suatu kerangka karangan yang baik. Namun sebelum seorang penulis baru mahir menyusun sebuah karangan ia memerlukan beberap tuntunan.
Langkah-langkah sebagai tuntunan yang harus diikuti adalah sebagai berikut :
•         Rumuskan tema yang jelas berdasarkan suatu topik dan tujuan yang akan dicapai melalui topik tadi. Tema yang dirumuskan untuk kepentingan suatu kerangkan karangan haruslah berbentuk tesis atau pengungkapan maksud.
•         Langkah yang kedua adalah mengadakan invetarisasi topik-topik bawahan yang dianggap merupakan perincian dari tesis atau pengungkapan maksud tadi. Dalam hal ini penuli boleh mencatat banyak-banyaknya topik-topik yang terlintas dalam pikirannya, dengan tidak perlu langsung mengadakan evaluasi terhadap topik-topik tadi.
•         Langkah yang ke tiga adalah penulis berusaha mengadakan evaluasi semua topik yang telah tercatat pada langkah kedua diatas. Evaluasi tersebut dapat dilakukan dalam beberapa tahap sebagai berikut :
Pertama :    apakah semua topik yang tercatat mempunyai pertalian (relevansi) langsung dengan tesis atau pengungkapan maksud. Bila ternyata sama sekali tidak ada hubungan maka topik tersebut dicoret dari daftar diatas.
Kedua :       Semua topik yang masih dipertahankan kemudian dievaluasi lebih lanjut. Apakah ada dua topik atau lebih yang sebenarnya merupakan hal yang sama, hanya dirumuskan dengan cara yang berlainan. Bila ternyata terdapat kasus yang semacam itu, maka harus diadakan perumusan baru yang mencakup semua topik tadi.
Ketiga :       Evaluasi lebih lanjut ditunjukkan kepada persoalan : apakah semua topik itu sama derajatnya, atau ada topik yang sebenarnya merupakan bawahan atau perincian dari topik yang lain. Bila ada masukan topik bawahan itu kedalam topik yang dianggap lebih tinggi kedudukannya. Bila topik bawahan itu hanya ada satu usahakan dengan dilengkapi dengan topik-topik bawahan yang lain.
Keempat :    Ada kemungkinan bahwa ada dua topik atau lebih yang kedudukannya sederajat, tetapi lebih rendah dari topik-topik yang lain bila terdapat hal yang demikian, maka usahakanlah untuk mencari satu topik yang lebih tinggi yang akan membawahi.
•         Untuk mendapatkan sebuah kerangka yang sangat terperinci maka langkah kedua dan ketiga dikerjakan berulang-ulang untuk menyusun topik-topik yang lebih rendah tingkatannya.
•         Sesudah semuanya siap masih harus dilakukan langkah yang terakhir, yaitu menentukan sebuah pola susunan yang paling cocok untuk mengurutkan semua perincian dari tesis atau pengungkapan maksud sebagai yang telah diperoleh dengan mempergunakan semua langkah diatas. Diperoleh dengan mempergunakan perincian akan disusun kembali sehingga akan diperoleh sebuah kerangka karangan yang baik.

D.       Pola susunan kerangka karangan
Untuk memperoleh suatu susunan kerangka karangan yang teratur, biasanya dipergunakan beberapa cara atau tipe susunan. Pola susunan yang paling utama adalah pola alamiah dan pola logis. Pola alamiah dari suatu kerangka karangan biasanya didasarkan atas urutan-urutan kejadian, atau urutan-urutan tempat atau ruang. Sebaliknya pola logis walaupun masi ada sentujan dengan keadaan yang nyata, tetapi lebih dipengaruhi oleh jalan pikiran manusia yang menghadapi persoalan yang tengah digarap itu.
Susunan alamiah dapat dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu :
1.                   Urutan Waktu (Kronologis)
Urutan waktu atau urutan kronologis adalah urutan yang di dasarkan pada runtunan peristiwa atau tahap-tahap kejadian. Yang paling mudah dalam pola urutan ini adalah mengurutkan peristiwa menurut urutan kejadiannya atau berdasarkan kronoliginya ; peristiwa yang satu mendahului yang lain , atau suatu peristiwa mengikuti persitiwa yang lain. Sering suatu peristiwa hanya akan menjadi penting bila dilihat dalam rangkaian dengan peristiwa-peristiwa lainnya. Biasanya peristiwa yang pertama sama sekali tidak menarik perhatian, sampai rangkaian kejadian itu mengalami perkembangan.
Suatu corak lain yang dari urutan kronologis yang sering dipergunakan dalam roman, novel, cerpen, dan dalam bentuk karangan naratif lainnya, dalam suatu variasi yang mulai dengan suatu titik yang menegangkan, kemudian mengadakan Sorot-balik (fleshback) sejak awal mula perkembangan hingga titik yang menegangkan tadi. Uraian selanjutnya mencakup perkembangan sesudah apa yang dikemukakan dalam bagian pertama yaitu titik yang menegangkan tadi.
Urutan kronologis adalah urutan yang paling umum, tetapi juga merupakan satu-satunya cara yang kurang menarik dan paling lemah. Sering, terutama dalam menjelaskan satu proses, urutan ini merupakan cara yang esensial.
2.                   Urutan Ruang (Spasial)
Urutan ruang atau urutan spasial menjadi landasan yang paling penting, bila topik yang diuraikan mempunyai pertalian yang sangat erat dengan ruang atau tempat, urutan ini terutama digunakan dalam tulisan-tulisan yang bersifat deskriptif.
3.                   Urutan Pemecahan Masalah
Urutan pemecahan masalah dimulai dari urutan suatu masalah tertentu, kemudian bergerak menuju kesimpulan umum atau pemecahan atas masalah tersebut. Sekurang-kurangnya uraian yang mempergunakan landasan pemecahan masalah terdiri dari tiga bagian utama, yaitu deskripsi mengenai peristiwa atau persoalan tadi, kedua, analisa mengenai sebab-sebab atau akibat-akibat dari persoalan dan akhirnya alternatif-alternatif untuk jalan keluar dari masalah yang dihadapi tersebut.
Dengan demikian untuk memecahkan masalah tersebut secara tuntas, penulis harus benar-benar menemukan sebuah sebab baik yang langsung maupun tidak langsung bertalian dengan masalah tadi. Setiap masalah hanya dapat dikatakan dengan masalah kalau akibat-akibat yang ditimbulkan telah mencapai titik kritis. Sebab itu untuk memecahkan masalah tersebut tidak bisa hanya terbatas pada penemuan sebab-sebab, tetapi juga harus menemukan semua akibat baik yang langsung maupun yang tidak langsung, yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi kelak.
Sebuah panitia yang dibentuk untuk mengatasi masalah bencana alam yang terjadi karena banjir yang melanda suatu daerah, tidak akan berhasil kalau ia hanya bertugas untuk mengumpulkan bahan makanan atau pakaian bagi yang ditimpa musibah. Ia harus menganalisa mengapa sampai terjadi banjir, di samping  menemukan akibat-akibat yang terjadi.
4.                    Urutan Umum-Khusus
Urutan umum-khusus terdiri dari dua corak yaitu dari umum ke khusus, atau dari khusus ke umum.
Urutan yang bergerak dari umum ke khusus pertama-tama memperkenalkan dari kelompok-kelompok yang paling besar atau yang paling umum, kemudian menelusuri kelompok-kelompok khusus atau kecil.
Urutan umum ke khusus dapat mengandung implikasi bahwa hal yang umum sudah diketahui penulis, serdangkan tugasnya selanjutnya adalah mengadakan identifikasi sejauh mana hal-hal yang khusus mengikuti pola umum tadi.
5.                    Urutan Familiaritas
Urutan familiaritas dimulai degan mengemukakan sesuatu yang sudah dikenal, kemudian berangsur-angsur pindah kepada hal-hal yang kurang dikenal atau belum dikenal. Secara logis memang agak ganjil jika pengarang mulai menguraikan sesuatu yang tidak dikenalnya, atau yang tidak dikenal pembaca.
6.                   Urutan Akseptabilitas
Urutan akseptabilitas mirip dengan urutan familiaritas mempersoalkan apakah suatu barang atau hal sudah dikenal atau tifak oleh pembaca, maka urutan akseptabilitas mempersoalkan apakah suatu gagasan diterima atau tidak oleh para pembaca.

E.        Macam-macam kerangka karangan.
Macam-macam kerangka karangan tergantung dari dua parameter yaitu : berdasarkan sifat perinciannya, dan kedua berdasarkan perumusan teksnya.
Berdasarkan Perincian
•                     Kerangka karangan sementara
Kerangka karangan sementara atau non-formal merupakan suatu alat bantu, sebuah penuntun bagi suatu tulisan yang terarah. Sekaligus ia menjadi dasar untuk penelitian kembali guna mengadakan perombakan-perombakan yang dianggap perlu. Kerangka karangan non-formal biasanya terdiri dari tesis dan pokok-pokok utama, paling tinggi dua tingkat perincian.
•                     Kerangka Karangan Formal
Kerangka karangan yang bersifat formal biasanya timbul dari pertimbangan bahwa topik yang akan digarap bersifat sangat kompleks, atau suatu topik yang sangat sederhana tetapi penulis tidak bermaksud untuk segera menggarapnya.
Berdasarkan perumusan teksnya
•                     Kerangka kalimat
Kerangka kalimat mempergunakan kalimat berita yang lengkap untuk merumuskan tiap unit, baik untuk merumuskan tesis maupun untuk merumuskan unit-unit utama dan unit-unti bawahannya.
Penggunaan kerangka kalimat mempunyai beberapa manfaat antara lain :
1.      Ia memaksa penulis untuk merumuskan dengan tepat topik yang akan diuraikan, serta perincian-perincian tetang topik itu.
2.      Perumusan topik-topik dalam tiap unit akan tetap jelas, telah lewat bertahun-tahun.
3.      Kalimat yang dirumuskan dengan baik dan cermat akan jelas bagi siapapun, seperti bagi pengarangnya sendiri.
•                     Kerangka Topik
Kerangka topik dimulai dengan perumusan tesis dalam sebuah kalimat yang lengkap. Sesudah itu semua pokok, baik pokok-pokok utama baik pokok-pokok bawahan, dirumuskan dengan mencantumkan topiknya saja, dengan tidak mempergunakan kalimat yang lengkap.


Senin, 09 November 2015

TUGAS 2 Bahasa Indonesia 1

Arti Ucapan dan Ejaan

Ejaan ucapan
adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi atau suara ejaan, bagaimana menempatkan tanda baca, bagaimana memotong-motong suatu kata serta bagaimana menggabungkan kata-kata.

macam-macam ejaan :

Ejaan van ophuysen adalah ejaan yang digunakan untuk menuliskan kata kata melayu menurut model yang dimengerti oleh orang belanda. Penggunaan ejaan ini dimulai sejak 1901 sampai 1947. contohnya : huruf " u " ditulis " oe ". 
Ejaan Republik/Ejaan Suwandi adalah sistem ejaan latin untuk Bahasa Indonesia. contohnya : Huruf " oe " dalam ejaan van ophuysen berubah menjadi " u ".
Ejaan Malindo adalah suatu ejaan dari perumusan ejaan melayu dan indonesia.
Ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan/EYD adalah suatu sistem ejaan dimana ejaan ini menggunakan bahasa yang baku dan resmi. Ejaan ini digunakan sebagai pedoman dalam berbahasa Indonesia.


Tanda Baca  
digunakan untuk menyempurnakan sebuah kalimat. ada beberapa tanda baca :

Tanda baca titik (.)
digunakan untuk mengakhiri suatu kalimat bukan berupa kalimat tanya dan kalimat seruan, contonya : ibu pergi ke pasar. 
Tanda baca titik (.) digunakan dibelakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar atau daftar, contohnya : 4.1 pembahasan
Tanda baca titik (.) digunakan untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan jangka waktu. Contohnya : pukul 01.45.03 ( pukul 01 lewat 45 menit 03 detik )
Tanda baca titik (.) digunakan diantara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka. Contoh : Lesatariningrum, Dwi. 1989. Teknik Menjahit. Malang: Intan.

Tanda baca koma (,)
Tanda baca koma (,) digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu perincian. Contoh: Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
Tanda baca koma (,) digunakan untuk memisahkan kalimat setara, apabila kalimat setara berikutnya diawali kata tetapi atau melainkan.Contoh: Semua pergi, tetapi dia tidak.
Tanda baca koma (,) digunakan apabila anak kalimat mendahului induk kalimat. Contoh: Jika hari ini tidak hujan, saya akan dating.

Tanda baca titik koma (;)
Digunakan untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis atau setara. Contoh: Matahari hamper terbenam; sinarnya yang kemerah-merahan; memantul di atas permukaan laut; indah sekali pemandangan ketika itu.
Digunakan untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung. Contoh: Sore itu kami sekeluarga sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ayah sedang membaca Koran; ibu menjahit baju; saya asyik membersihkan taman di depan rumah.

Tanda baca titik dua (:)
Digunakan sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan perincian.  Contoh:  Ketua : Ahmad Wijaya,
Digunakan di anatara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan ayat di dalam kitab suci, di antara judul dan sub judul, serta nama kata dan penerbit buku acuan. Contohnya :  Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.s

Tanda tanya (?)
digunakan pada akhir kalimat tanya, yakni kalimat yang membutuhkan jawaban. Contoh: Siapa yang membawa tas saya ?

Tanda seru (!)da
Tanda ini digunakan sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat. Contoh: Alangkah seramnya peristiwa itu!


Kata dan Pilihan Kata

Pengertian kata
Kata adalah kumpulan beberapa huruf yang memiliki makna tertentu. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan suatu perasaan dan pikiran yang dapat dipakai dalam berbahasa. Dari segi bahasa kata diartikan sebagai kombinasi morfem yang dianggap sebagai bagian terkecil dari kalimat. Sedangkan morfem sendiri adalah bagian terkecil dari kata yang memiliki makna dan tidak dapat dibagi lagi ke bentuk yang lebih kecil.

Pengertian Pilihan kata
Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa – nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.

Makna Kata
Makna adalah hubungan pertalian antara bentuk dan acuan. Contohnya kata rumah yang berarti tempat tinggal. Rangkaian bunyi r-u-m-a-h adalah bentuk suatu kata, sedangkan tempat tinggal adalah sesuatu yang diacu oleh bentuk kata tersebut.

macam-macam makna kata :
Makna denotasi adalah makna yang sesuai dengan makna yang terdapat dalam kamus.
Makna konotasi adalah makna yang didasarkan atas perasaan tertentu nilai rasa tertentu disamping makna dasar umum.
Makna leksikal adalah makna kata sebagai satuan bebas. Makna ini dapat disejajarkan dengan makna denotasi.
Makna gramatikal adalah makna suatu satuan bahasa yang dimiliki melalui proses gramatikal.
Makna idiomatik adalah makna yang terdapat pada kelompok kata tertentu yang tidak dapat ditelusuri asal usul kemunculannya.


Struktur Leksikal
Struktur leksikal adalah susunan atau konfigurasi butir leksikal atau medan leksikal sedemikian rupa sehingga relasi fungsionalnya tampak.



Kalimat Efektif

Pengertian Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri memiliki pola intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa yang digunakan sebagai sarana untuk menuangkan dan menyusun gagasan secara terbuka agar dapat dikomunikasikan kepada orang lain, atau bagian ujaran yang mempunyai struktur minimal subjek dan predikat, mempunyai intonasi dan bermakna.

Hal hal yang berhubungan dengan kalimat
Hal yang berhubungan dengan kalimat adalah alinea. Alinea adalah satu kesatuan pikiran, satu kesatuan yang lebih tinggi dari sebuah kalimat. Didalam alinea terdapat kalimat utama dan kalimat penjelas, dimana kalimat penjelas adalah kalimat yang memberikaan penjelasan ide dari kalimat utama suatu paragraph sedangkan kalimat utama adalah kalimat inti dari sebuah gagasan yang berisi sebuah pernyataan dan akan dijelaskan oleh kalimat penjelas. Selain itu kalimat utama dapat terletak pada awal kalimat, ditengah maupun diakhir kalimat.

SUMBER 1
SUMBER 2

Sabtu, 10 Oktober 2015

Tugas Bahasa Indonesia 1

Peranan dan Fungsi Bahasa

Pengertian Bahasa
Bahasa berarti sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh semua orang atau anggota masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri dalam bentuk percakapan yang baik, tingkah laku yang baik, sopan santun yang baik.
Pengertian Bahasa Menurut Para Ahli
Sahabat pembaca, untuk mampu membangun pemahaman terbaik mengenai definisi bahasa, bagaimana kalau kita lihat tentang bagaimana para ahli mendefinisikan Bahasa? Lalu tentu saja menarik kesimpulan atau merekonstruksi pemahaman terbaik di benak kita? Baik, ini dia beberapa pengertian bahasa menurut para ahli.
1.     Menurut Mc. Carthy, bahasa adalah praktik yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan berpikir.
2.     Menurut William A. Haviland, Bahasa adalah suatu sistem bunyi yang jika digabungkan menurut aturan tertentu menimbulkan arti yang dapat ditangkap oleh semua orang yang berbicara dalam bahasa itu.
3.     Menurut Wibowo (2001), Bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran.
4.     Menurut Keraf Smarapradhipa (2005), ia memberikan dua pengertian mengani bahasa, yakni 1) menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia; 2) Bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.
5.     Menurut Mackey (1986), bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan (lenguage may be form and not matter) atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem.

Fungsi Bahasa
Fungsi umum bahasa, dilihat dari tujuan penggunaannya berikut ini adalah beberapa fungsi bahasa:
1.     Dalam tujuan praktis, bahasa berfungsi untuk melakukan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
2.     Dalam tujuan artistik, bahasa yang diolah, dan dirangkaikan dengan indah dapat berfungsi sebagai media pemuasan rasa estetis manusia.
3.     Dalam tujuan pembelajaran, bahasa merupakan media untuk mempelajari berbagai pengetahuan, baik yang berada pada lingkup bahasa itu sendiri, ataupun diluar bahasa.
4.     Dalam tujuan filologis, bahasa berfungsi untuk mempelajari naskah-naskah tua guna menyelidiki latar belakang sejarah manusia, kebudayaan dan adat-istiadat, serta perkembangan bahasa itu sendiri.
5.     Bahasa juga berfungsi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam bidang teknologi sendiri, bahasa juga digunakan pada konsep kecerdasan buatan.
Sementara, jika ditilik dari sudut pandang penutur, pendengar, topik, kode dan amanat pembicaraan, maka sedikitnya ada enam fungsi bahasa yakni sebagai berikut:
·         Fungsi Personal (Pribadi)
·         Fungsi Direktif
·         Fungsi Fatik
·         Fungsi Referensial
·         Fungsi Metalingual atau Metalinguistik
·         Fungsi Imajinatif

Ragam dan Laras Bahasa
Pengertian Ragam dan Laras
Pengertian Ragam Bahasa
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Pengertian Laras Bahasa
laras bahasa adalah kesesuaian antara bahasa dan pemakaianya.dalam hal ini kita mengenal iklan, laras ilmiah,laras populer,laras featue,laras komik,laras sastra, yang masih dapat di bagi atas laras cerpen, laras puisi,laras novel, dan sebagainya.
Macam-macam Ragam Bahasa
Yaitu bisa dibagi 3 berdasarkan media,cara pandang penutur, dan topik pembicaraan.
1. Ragam bahasa berdasarkan media
a.   Ragam bahasa Media (Lisan)
Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat.
Namun hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan kalimat dan unsur-unsur didalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicara menjadi pendukung didalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.
Pembicara lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicara lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa dituliskan, ragam bahasa itu tidak bisa disebut ragam bahasa tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak  menunjukan cir-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dengan tulisan,  ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Kedua ragam itu masing-masing adapun ciri dari keduanya:
Ciri-ciri ragam lisan:
·         Memerlukan orang kedua/teman bicara.
·         Tergantung kondisi, ruang, dan waktu.
·         Tidak harus memperhatikan gramatikal, hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
·         Berlangsung cepat
b.Ragam Tulis
Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulisan makna kalimat yang diungkapkan nya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalomat. Oleh karrena itu, penggunaan ragam baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk katadan struktur kalimat, serta kelengkapaan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.
Ciri-ciri ragam tulis:
1.      Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara;
2.      Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu;
3.      Harus memperhatikan unsur gramatikal;
4.      Berlangsung lambat;
5.      Selalu memakai alat bantu;
6.      Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi;
7.     Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda baca.
           Contohnya: “Saya sudah membaca buku itu”.
Perbedaan antara ragam lisan dan tulisan (berdasarkan tata bahasa dan kosa kata ) :
Tata Bahasa :
a.       Ragam Bahasa lisan
1)      Nia sedang baca surat kabar.
2)      Ari mau nulis surat.
3)      Tapi kau tak boleh menolak lamaran itu.
b.      Ragam bahasa tulisan.
1)         Nia sedang membaca surat kabar.
2)         Ari mau menulis surat.
3)         Namun, engkau tidak boleh menolak lamaran itu.
Kosa kata :
a.       Ragam bahasa lisan
1)    Ariani bilang kalau kita harus belajar.
2)    Kita harus bikin karya tulis.
3)    Rasanya masih terlalu pagi buat saya, Pak
b.      Ragam bahasa tulisan
1)    Ariani mengatakan bahwa kita harus belajar.
2)    Kita harus membuat karya tulis.
3)    Rasanya masih telalu muda bagi saya, Pak.
2.Ragam bahasa Indonesia dari cara pandang penutur.Berdasarkan cara pandang penutur, ragam bahasa indonesia terdiri dari ragam dialek, ragam terpelajar, ragam resmi dan ragam tak resmi.
 Contoh:
Ragam dialek     : “Gue udah baca itu buku ”
Ragam terpelajar : “Saya sudah membaca buku itu”
Ragam resmi       : “Saya sudah mmbaca buku itu”
Ragam tak resmi  : “Saya sudah baca buku itu”
3.Ragam bahasa Indonesia menurut topik pembicaraan.Berdasarkan topik pembicaraan, ragam bahasa terdiri dari ragam bahasa ilmiah, ragam hukum, ragam bisnis, ragam agama, ragam sosial, ragam kedokteran dan ragam sastra.
Ragam hukum     : Dia dihukum karena melakukan tindak pidana.
Ragam bisnis       : Setiap pembelian diatas nilai tertentu akan diberikan diskon.
Ragam sastra       : Cerita itu menggunakan Flashback.
Ragam kedokteran: Anak itu menderita penyakit kuorsior





Pendapat Tentang Ragam bahasa Di Indonesia
Di Indonesia ragam bahasa yang digunakan sama dengan ragam bahasa pada umum nya,yakni variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. hanya saja belakangan ini muali tampak sedikit berubah dari ragam bahasa yang baik, terutama di kalangan remaja, remaja kerap kali tidak menghiraukan lawan bicaranya, terkadang beberapa remaja masa kini, sudah emnganggap lawan bicara yang lbih tua sepadan/mreka anggap sebagai teman seumuran, padahal seharusnya yang lbih muda jauh lbih menghormati dan lbih sopan ktika berbicara dengan yang lbih tua.